“Hindari Gaya Hidup Konsumtif…”

R.E.F.L.E.K.S.I

Sr. Immaculata, SFD

Dalam pelatihan singkat di LDD pada Oktober 2017 lalu, saya sangat terkesan dengan tema pelatihan koperasi yakni mengelola keuangan keluarga (ERT). Setelah mendengar kisah dan diskusi kawan kawan buruh yang hadir, saya sungguh tertarik merekleksikannya dengan topik yang lebih spesifik yakni “BERSYUKURLAH DAN HINDARI GAYA HIDUP KONSUMTIF.”

Kalau kita mengamati gaya hidup jaman now sungguh menarik. Gaya hidup yang sungguh mengajak kita untuk selalu refleksi untuk berdiscerment dalam memilih tindakan tertentu. Gaya hidup yang serba instant. Gaya hidup yang ingin supaya segalanya diperoleh serba cepat tanpa proses. Gaya hidup demikian meradiasi ke segala aspek kehidupan: aspek spiritual formation, pendidikan, ekonomi seperti memilih fastfood. Selain itu, masyarakat jaman now sering mengukur diri atau melihat orang lain dari penampilan dan status.

Mereka suka menghabiskan waktu di tempat-tempat menarik seperti; kafe, mall, tempat wisata sebagai tempat untuk santai, nongkrong, diskusi,  rekreasi dan tempat untuk melepaskan kepenatan diri, dan bahkan menjadi tempat mengaktualisasikan diri lewat medsos “selfi” dan mengunggah foto-foto tersebut.

Jaman yang ditandai oleh keterikatan  dengan media komunikasi. Saat ponsel ketinggalan, serasa hati tak nyaman, perjalanan rasa tidak lengkap. Internet menjadi kebutuhan pokok selain makanan, pakaian dan tempat tinggal di jaman now. Tanpa internet masyarakat jaman now kebingungan karena tidak bisa akses atau aktif. Medis social menjadi salah satu sarana paling penting dan banyak digunakan untuk menjalin relasi dan bersosialisasi dengan sesama di dunia maya. Itulah budaya hidup konsumtif yang lagi “trend” untuk kebanyakan orang jaman ini bukan hanya pada orang kaya “berduit” tetapi juga kelas menengah Ke bawah. Bagaimana hubungannya dengan pengelolaan keuangan?

Budaya konsumtif yang ditandai oleh perilaku kurangnya pertimbangan secara rasional, kecenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas karena lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan. Mereka senang membeli barang barang tanpa memperhitungkan  sehingga sifatnya berlebihan dan demi keinginan dan hasrat.

Sadar akan situasi ini, kita menyadari bahwa kita banyak menghabiskan uang untuk media social, membeli fastfood, tergiur untuk membeli barang barang yang dipromosikan dalam iklan “discount” 25 %, 50 %, dan seringkali kita berbelanja sesuai dengan keinginan, dorongan dan hasrat bukan karena kebutuhan.

Semua ini mempengaruhi keberadaan ekonomi keluarga yang bisa mengakibatkan pertengahan bulan “dompet sudah kosong”, meminjam, dan tidak memiliki simpanan.  Barangkali hal ini terjadi karena kurangnya kontrol diri, belum memiliki budget pengelolaan keuangan per bulannya.

Beranikah kita mengubah gaya hidup konsumtif yang demikian menjadi hidup lebih bersyukur, berani berkata cukup, hemat, kontrol diri dan pengendalian diri yang kuat? Mulailah hidup penuh pertimbangan, berdiscerment  dalam menggunakan uang agar hidup kita lebih bermakna? Untuk itu mari kita renungkan dan refleksikan apa yang dikatakan oleh St. Paulus dalam suratnya kepada Timoteus dan kepada kita pembaca jaman now.

Paulus berkata kepada Timotius, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” Bagi Paulus ibadah yang paling besar adalah jika kita memiliki rasa cukup. Itu artinya kita memiliki gaya hidup yang hemat, tidak boros dan tidak memenuhi segala keinginan.  Sebaliknya hidup menjadi tidak bermakna bila rasa tidak puas terus mewarnai hidup kita dan terus menerus dijiwai oleh gaya hidup konsumtif dan hanyut dalam pengaruh dunia yang semakin buruk.

Paulus mengingatkan kita, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1 Tim 6:8), tetapi mereka yang lebih kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan (ay 9).

Dalam ayat itu Paulus menjelaskan bagaimana manusia itu akan terjatuh ke dalam dosa dan nafsu, karena mereka memiliki keinginan lebih dari apa yang mereka butuhkan dan itu mencelakakan, menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

Dalam ayat ini secara implisit digambarkan gaya hidup jaman now; gaya hidup konsumtif, instan, keinginan untuk memenuhi dorongan hasrat dan nafsu padahal itu bukan kebutuhan mendasar. Membiarkan diri untuk mengejar dan memenuhi keinginan akan mencelakakan dan membinasakan. Karena untuk memenuhi dorongan dan hasrat tersebut seringkali manusia memburu uang yang membawa manusia terjatuh dan menyimpang dari iman, terjatuh dalam lubang-lubang dosa dan tidak jarang menjadi hamba uang. Karenanya Paulus mengatakan, “akar dari segala kejahatan adalah uang ” (ayat 10)

Saya kira apa yang dimaksud Paulus disini supaya hidup kita lebih produktif dengan meninggalkan gaya hidup konsumtif dan menjadi orang yang penuh rasa syukur, berterimakasih atas apa yang Tuhan beri kepada kita. Dan inilah yang memberi keuntungan besar bagi perjalanan hidup kita menuju keselamatan kekal. Sebab  segala harta dan kekayaan tidak akan kita bawa serta pada akhir hidup kita (1 Tim 6:7). Maka cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu karena Allah tidak akan meninggalkanmu (bdk, Ibr 13:5).

Apakah kita masih terpengaruh budaya konsumtif seperti yang dipercayai banyak orang sebagai yang terbaik di jaman now atau lebih bersyukur dengan hidup apa adanya, berani berkata cukup dengan kalahkan godaan promosi dan iklan. Paulus juga mengingatkan kita supaya kita menepis budaya konsumtif ini dengan membangun rasa percaya diri dan menjadi diri sendiri yang menyadari bahwa memenuhi kebutuhan lebih penting daripada memenuhi keinginan dan hasrat semata.