Jubahku Menjadi Sahabat Buruh

Kala itu,  Saya  takut juga

Dulu saat ke mana-mana pakai ojek, angkutan umum, saya sering kunjungan dari lorong tikus sampai lorong kambing. Suasana masih banyak lorong gelap. Saat sore menjelang buruh pabrik pulang, jalanan penuh debu dan kemacetan.

Saat hendak turun oplet, tukang ojek menyerbu mena-warkan jasa tanpa memper-hitungkan keselamatan jiwa diri sendiri dan orang lain.   Seringkali saya  jengkel;  dan nyelonong memilih naik ojek yang tidak berebut meskipun harus  berjalan kaki penuh “arogansi” mencari mereka yang mangkal tanpa ambisi.

Hampir setiap malam bersahabat dengan ojek, angkutan umum yang isinya dimalam hari penuh dengan kaum pria yang hendak kerja shif malam, dan mobil-mobil kontainer besar yang berebut jalanan di malam hari. Rasanya kurang aman dan nyaman.

Pakaian Biara yg menjadi identitas diri, masih menjadi momok bagi banyak orang dan bahkan masih dilarang. Jangankan Ibadat, berdoa bersama, berpakaian biarapun aku belum belum berani tampil dimuka umum, aku masih takut.

Kini, sangat berubah

Tidak terasa, Sekarang  hampir 18 Tahun kami para suster Hati Kudus boleh hadir dan hidup ditengah-tengah kaum buruh. Semuanya telah  menjadi berubah. Transportasi jauh lebih nyaman dan aman, jalanan sudah terang dan bahkan tak perlu takut karena semua orang semakin bersahabat dan menyaudara dimanapun.

Keyakinan ini diteguhkan dengan penerimaan dari golongan apapun. Mereka menerima  tidak saja dari jubah yang saya kenakan, namun persaudaraan tulus dari teman-teman buruh maupun kelompok Serikat Buruh yang anggotanya  hampir 100%   muslim. Kami bisa  bergandengan tangan dan makan sama rasa tanpa ada sekat.  Suasana damai, penuh persaudaraan tanpa membedakan satu dengan yang lain menjadi impian bangsa dalam mewujudkan Persatuan Indonesia  seperti yang ada pada  sila ke 3 Pancasila.

Saya tidak bangga terhadap diri sendiri, karena nampaknya tidak ada yang spetaculer dalam hidup saya ini.  Namun saya bangga terhadap semua mahkluk yang mampu menghargai kehidupan dengan segala keaneka ragaman yang ada.  Ini sudah cukup bagi saya.

Saya bangga kepadamu

Saya merasakan bangga dan bersyukur lewat teman-teman buruh Khatolik yang sejak  awal adanya Komunitas Basis, saya boleh hadir dalam rumah petak . Tak sedikit aku jumpai diantara kalian untuk berdoa Rosario, Salam Maria pun kalian tak hafal.

Kita sering berjalan kaki bersama untuk mengunjungi teman-teman buruh lainnya dengan suasana hangat dan semangat. Apa yang kita buat? Seputar doa, sharing masalah pribadi dan pekerjaan, kita juga belajar bersama tentang keadilan  Gender, Kepemimpinan, KBG, Ansos bahkan ASG,..

Kini saya terharu mampu menyaksikan kalian sudah tampak lebih hebat.  Tak sedikit yang kini menjadi  penggiat di Gereja. Saya bangga kalian berkembang dari segi iman dan ekonomi. Kalian sudah memiliki rumah, kendaraan dan anak istri/suami yang baik.

Semoga kalian tetap berkembang dalam keseimbangan hidup  sejahtera lahir dan batin sehingga mampu menjadi pelayan dan rekan kerja untuk sesama yg membutuhkan.

Jubahku menjadi sahabat   

Buahnya sekarang ini adalah Perasaan Nyaman merasa diterima kapan dan dimanapun saya melayani. Ketia sekarang saya pergi ke teman-teman buruh yang sekalipun belum saya kenal sebelumnya,mulai dari wilayah Bekasi hingga Tangerang saya mampu masuk ditengah-tengah mereka.  Merekapun menerima saya sebagai sahabat dan saya boleh hadir atas nama lembaga gereja yang dapat dikenali dengan identitas jubah biara saya .

Pelayanan ini adalah pelayanan sebagai  sahabat dan penggerak  para buruh. Bagi yang sedang dalam masalah merasa memiliki sahabat dan  saudara  yang peduli dan meneguhkan.

Sekarang ini, sesungguhnya saya boleh dikatakan bahwa saya hadir atas nama orang yang terpanggil membawa nama  Gereja yang peduli pada dunia tanpa membedabedakan.

Sr. Sebastiana, HK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *