Keterampilan Hidup Sehari-hari – Baca Tulis Braille, Orientasi Mobilitas, HP bicara, dan Bahasa Isyarat

Baca tulis Brille, orientasi mobilitas, HP bicara dan bahasa isyarat adalah bentuk-bentuk keterampilan yang penting untuk dikuasai oleh disabilitas. Keterampilan ini mengurangi ketergantungan terhadap orang lain dalam melakukan aktifitas hidup dasar sehari-hari. 

Baca Tulis Braille.

Seperti halnya orang yang non disabilitas netra, kehadiran aksara juga dibutuhkan oleh saudara-saudari kita yang disabilitas netra. Aksara, yang dapat menghasilkan kata, kalimat, dan paragraf diyakini sebagai simbol yang paling efektif untuk menyampaikan gagasan pemikiran kita.

Huruf Braille adalah suatu bentuk sistem baca tulis yang digunakan oleh teman-teman disabilitas netra dalam membaca dan menulis. Penyajian huruf Braille berupa enam titik timbul yang disusun berdampingan dua lajur. Masing-masing lajur terdiri dari tiga titik ke bawah. Alat tulis yang digunakan disebut riglet stilus (ejaan Indonesia). Riglet adalah papan lipat yang terbuat dari plastik atau besi untuk memuat kertas. Stilus adalah pena untuk membuat huruf timbul. Cara menulis huruf Braille dari kanan ke kiri, sementara membacanya dari kiri ke kanan dengan menggunakan rabaan jari-jari tangan. 

Orientasi Mobilitas

Orientasi mobilitasi adalah sebuah keterampilan bagi masyarakat disablitas netra untuk menentukan arah, keberadaan, dan pergerakan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam prakteknya orientasi mobilitas membutuhkan bantuan indera pendengaran, penciuman, serta indera gerak tangan, dan kaki.

Saat melakukan pergerakan mandiri dari satu tempat ke tempat lain, disabilitas netra diwajibkan menggunakan tongkat putih (white cane). Tongkat putih mempunyai dua fungsi. Pertama, sebagai “mata”, artinya saat disabilitas netra berjalan—dengan teknik mengetuk atau menggeser,  tongkat dapat diarahkan melihat kondisi jalan serta segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Fungsi kedua adalah sebagai alat penanda bahwa orang yang menggunakannya adalah disabilitas netra, sehingga masyarakat non disabilitas netra manjadi sadar bahwa ada disabilitas netra di sekitar mereka yang perlu diberi bantuan sesuai kebutuhannya. 

3 Bahasa Isyarat

Bahasa isyarat adalah simbol untuk menyampaikan suatu pesan antara masyarakat non disabilitas rungu kepada disabilitas rungu atau antara sesama disabilitas rungu. Bahasa isyarat disampaikan melalui bahasa tubuh—berupa  gerakan badan dengan menggunakan gestur  (gerakan tangan, dan ekpresi wajah tertentu).

Pelatihan bahasa isyarat bertujuan agar semakin banyak masyarakat non disabilitas rungu yang menguasai bahasa isyarat sehingga dengan demikian dapat mendekatkan jarak,dan menciptakan komunikasi yang inklusif antara masyarakat non disabilitas rungu dengan disabilitas rungu.  

Artikel ditulis oleh: Harry Pattiradjawane