Tanggap Bencana Kebakaran di Pemukiman Padat Muara Angke

Sebuah kebakaran terjadi di pemukiman padat, Muara Angke – Penjaringan, Jakarta Utara pada hari Rabu, 17 Februari 2021. Sebanyak 8 unit rumah semipermanen habis dilalap api dalam  waktu singkat, hal tersebut dibenarkan oleh Kanit Reskrim Polsek Kawasan Sunda Kelapa, AKP Ikhrom Bhaiki.  Kebakaran tersebut terjadi pada pukul 17:45 WIB, tepatnya di pemukiman warga RT 09 RW 22, Blok Empang Muara Angke.

Munculnya api secara tiba-tiba dan membesar dengan cepat, tidak mampu diantisipasi oleh para warga. Mereka hanya mampu menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat di badan dan harta benda seadanya. Kebakaran telah meluluhlantahkan kehidupan 16 KK dan untuk sementara para korban kebakaran ini menumpang di rumah kontrakan yang dipinjamkan Ketua RT.  Beberapa warga, ada pula yang bertahan di beranda rumah para tetangga dengan menggunakan terpal seadanya.

Keesokan harinya, Kamis 18 Februari 2021,  Tim Asesmen dari LDD KAJ mengunjungi lokasi kebakaran untuk mengumpulkan informasi. Tim terdiri dari Divisi Kebencanaan, Dian Susanti dan Stefanus Bedahrang dari Divisi Karitatif.  Informasi yang diperoleh akan dipergunakan untuk menentukan langkah-langkah yang diambil oleh LDD KAJ dalam meringankan beban para korban kebakaran tersebut.

Tim Asesmen melakukan wawancara dengan istri ketua RT dan warga korban kebakaran serta mengamati lapangan secara langsung di lokasi kebakaran. Nampak warga sedang mencari barang-barang yang masih bisa digunakan di antara puing-puing kebakaran.

Warga berharap bantuan dari pemerintah segera datang untuk membangun kembali rumah yang telah hancur dilahap si jago merah.

Pada hari jumat, 19 Februari 2021, LDD KAJ melalui Divisi Karitatif dan Divisi Kebencanaan mencoba untuk meringankan para korban terdampak kebakaran ini dengan memberikan bantuan berupa: sembako, biskuit, susu, vitamin, selimut, pakaian layak pakai, serta terpal. Sebanyak 16 Kepala Keluarga atau sekitar 47 jiwa telah dibantu.

Berikut merupakan data korban yang telah dibantu oleh LDD KAJ:

Dewasa33 orang
Lansia2 orang
Ibu hamil2 orang
Balita10 orang

Artikel ini ditulis oleh: Dian Susanti
Artikel ini diedit oleh: Derren Permana

Bela Rasa di masa Pandemi – Tanggap Bencana di Sulawesi Barat

Pada hari Jumat, 15 Januari 2021, Gempa berkekuatan 6,2 SR mengguncang Sulawesi Barat dengan pusat gempa di wilayah Majene dan sekitarnya. Beberapa fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit, perkantoran, dan rumah hancur runtuh total, ribuan orang mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman. Sebuah bencana yang memilukan hati, terlebih bencana ini terjadi di saat seluruh dunia sedang berjuang melawan pandemi COVID-19. Sebuah keadaan yang membutuhkan penanganan khusus dan tepat.

Beruntung Gereja Santa Maria Ratu Rosari, Mamuju masih berdiri tegap meski ada beberapa bagian yang retak dan lokasi gereja yang relatif aman karena berada di puncak perbukitan kota Mamuju.  Di kompleks pelayanan Paroki Mamuju inilah pusat aksi bela rasa berpusat.

Sejak awal bencana, Pastor Paroki, Victor Wiro Patinggi Pr dengan sigap mengkoordinir bantuan untuk para penyintas bersama dengan tim tanggap bencana yang pernah memperoleh pelatihan dari Caritas Indonesia, Karina KWI. Beberapa hari kemudian tim Caritas Makassar hadir dengan diikuti staf dari Carita Indonesia, Rudi Raka dan satu minggu kemudian disusul relawan dari LDD KAJ, Pipit Prahoro serta Caritas Tanjung Karang, FX Iwan. Sebuah gerak bersama serta sinergi dari jaringan Caritas Indonesia dan kearifan lokal, layaklah pos pelayanan ini diberi nama, Pos Pelayanan Kemanusiaan Gempa Sulawesi Barat, Jaringan Caritas Indonesia, Paroki St Maria Ratu Rosari Mamuju.

Gudang Logistik di Posko Tanggap Bencana

Bencana ini telah menggerakan sikap bela rasa siapapun juga, khususnya mereka yang tinggal di paroki sekitar se-kevikepan dan se-keuskupan. Paroki Baras, Paroki Poliwali, Paroki Mamasa, Paroki Pare-pare, bahkan Paroki Palu dari Keuskupan Manado turut mengirimkan bantuan ke Pos Pelayanan di Paroki Mamuju. Kevikepan Luwu juga mengirimkan bantuan serta relawannya, sehingga jumlah relawan pada minggu kedua setelah gempa  di pos pelayanan Gereja Santa Maria Ratu Rosari tidak kurang dari 60 orang, termasuk pastor Vikjen, direktur Caritas Makassar dan 3 pastor pendamping, sebuah jumlah yang luar biasa.

Bukan sekedar jumlah, angka itu menunjukkan potensi kekuatan pelayanan yang menakjubkan, terlebih karena musibah ini terjadi di tengah pandemi.

Pada masa biasa tanpa pandemi, tentu saja banyak proses dan ketentuan yang harus dijalani layaknya sebuah pos sebagai pusat pelayanan respons bencana. Sedangkan, aksi bela rasa di masa pandemi ini tentu memiliki penekanan-penekanan tertentu yang tidak hanya berpusat pada penyintas sebagai tujuan atau sasaran pelayanan namun juga harus memberi atensi khusus pada para relawan atau pelaku dalam melakukan aksi bela rasa itu sendiri.

Media Center di Posko Tanggap Darurat

Di masa pandemi ini, pastinya seluruh proses pendistribusian harus dilakukan dengan menggunakan protokol kesehatan yang baku.  Seluruh relawan menggunakan masker, menjaga jarak, tidak bersentuhan, serta selalu menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan pada saat tertentu, menjadi bagian dalam mewarnai ritme dari seluruh proses pendistribusian bantuan.  Hal ini dilakukan untuk menjaga dan memastikan bahwa seluruh relawan dalam kondisi yang sehat atau tidak dalam keadaan terinfeksi virus, khususnya para relawan di bidang asesmen dan distribusi, seluruhnya melakukan tes Swab Antigen di Desk Relawan BNPB, demikian pula para relawan yang baru saja bergabung.

Swab Antigen menjadi hal pokok yang harus dilakukan secara periodik untuk memastikan kesehatan para relawan atau siapapun yang berada di pos pelayanan. Karena keberlangsungan pelayanan untuk menyapa para penyintas merupakan tujuan akhir dari aksi bela rasa ini, hingga suatu saat nanti, penyintas dan relawan  dapat kembali kepada kehidupannya sedia kala tanpa di bawah bayang-bayang kekhawatiran terinfeksi virus Corona Covid 19.


Artikel ini ditulis oleh: Pipit Prahoro
Artikel ini diedit oleh: Derren Permana