Pendampingan Disabilitas

Disabilitas adalah suatu kondisi gagalnya interaksi antara orang yang mempunyai hambatan fisik dengan lingkungannya. Hambatan itu berupa hilangnya sebagian atau seluruh fungsi alat indera pada tubuh, bisa disebabkan karena kecelakaan, faktor genetik, atau pola hidup yang tidak sehat.

Orang dengan disabilitas merupakan bagian dari keragaman fisik seperti halnya keragaman warna kulit, atau tinggi badan. Mereka hanya membutuhkan akses penghubung untuk dapat melakukan aktifitas sama seperti orang non-disabilitas.

 Saat bertemu orang dengan disabilitas sapalah, ajaklah berbicara sama seperti yang dilakukan kepada orang non disabilitas.

TUNA NETRA

  • Bila bertemu tuna netra, sapalah, lalu sentuh siku atau lengan mereka, kemudian bertanya hendak ke mana atau apakah membutuhkan pertolongan.
  • Bila hendak menuntun kita berdiri satu langkah di depannya.
  • Disarankan untuk tidak menuntun tuna netra dengan cara memegang atau menarik tongkat, karena tongkat itu merupakan “mata” bagi tuna netra utuk menentukan posisi dan arah mereka.
  • Ketika akan menuntun, berikan siku kita agar dapat dipegang oleh tuna netra.
  • Hindari kata-kata seperti awas, yang ini, atau yang itu.
  • Saat berjalan, tuna netra berada di sisi yang aman. Misalnya saat berjalan di trotoar jalan raya, tuna netra berada di sisi dalam, sedangkan pendamping berada di sisi luar yang bersebelahan dari arah jalan raya.
  • Pendamping memberikan informasi tentang keadaan jalan yang dilalui. contoh apabila ada jalan yang rusak, bila ada hambatan benda-benda atau kerumunan orang di depan, dan sebagainya.
  • Bila ingin meninggalkan tuna netra, hendaknya memberi tahu bahwa kita ingin pergi, agar tuna netra paham bahwa dia akan sendiri.

TUNA RUNGU

  • Bila berbicara dengan tuna rungu, kita harus berdiri berhadapan wajah dengannya.
  • Saat berbicara, sebaiknya perlahan dengan ucapan yang jelas, agar mereka dapat memahami gerak bibir kita.
  • Bila ada kesempatan pelajari bahasa isyarat setidaknya menguasai huruf abjad.

TUNA GRAHITA

  • Berbicara dengan bahasa yang sederhana berupa kalimat-kalimat pendek dan pilihan kosa kata yang mudah dimengerti

TUNA DAKSA

  • Ketika berbicara dengan tuna daksa, posisi wajah kita harus sama dengan wajah mereka
  • Tidak memperhatikan bagian tubuh yang mengalami kekurangan dalam waktu lama.
  • Bila mendampingi orang dengan kursi roda, tidak diperkenankan bagi kita untuk menumpangkan kaki pada kursi roda, karena kursi roda itu bagi mereka merupakan bagian dari tubuh mereka.
  • Doronglah kursi roda dengan kecepatan yang wajar
  • Bila melalui bidang meiring, maka pendamping dan pengguna kursi roda berjalan mundur. Posisi pendamping menopang kursi roda saat berjalan mundur.

Kesetaraan hak akan terwujud apabila masyarakat non disabilitas membuka diri secara positif dalam memandang kehadiran orang dengan disabilitas. Masyarakat non disabilitas dapat menjadi sumber pikiran, mata, telinga, kaki dan tangan bagi mereka yang disabilitas, sehingga dengan demikian sekat-sekat, kesenjangan, dan stigma akan hilang digantikan dengan relasi kehidupan yang setara, wajar dan inklusif.  

Penulis: Harry Pattiradjawane